Bisnis Buku Bekas Tergerus Internet dan e-Book

Bisnis Buku Bekas Tergerus Internet dan e-Book
Tedi asyik membuka lembaran kertas dari buku-buku usang. Dalam lapak berukuran 3x3 meter itu, dia menumpuk barang dagangannya demi menarik pelanggan. - inilah.com/Dadi Haryadi
Oleh: Dadi Haryadi
Jabar - Kamis, 9 Februari 2012 | 12:47 WIB

INILAH.COM, Bandung - Tedi asyik membuka lembaran kertas dari buku-buku usang. Dalam lapak berukuran 3x3 meter itu, dia menumpuk barang dagangannya demi menarik pelanggan.

Namun pria berusia 25 tahun ini sedikit mengeluh, karena jumlah pelanggannya terus merosot akibat perkembangan teknologi internet dan e-book.

"Pengaruh internet dan e-book sangat signifikan, penjualan buku bekas jadi sepi, bahkan sering tidak ada pembeli sama sekali, karena para pelanggan lebih memilih browsing," ujar Tedi saat ditemui INILAH.COM di lapaknya di Jalan Balonggede Kota Bandung, Rabu (8/2/2012).

Meski begitu, Tedi tetap optimistis bisnis buku bekas masih mempunyai pasar. Sebab, profesi yang digelutinya sejak 2007 tersebut menjadi penopang hidup beserta istri dan seorang anaknya.

Awalnya, dia tidak pernah menyangka akan menjadi pedagang buku. Ketika itu, Tedi yang baru lulus SMA kebingungan mencari kerja. Tiba-tiba, pamannya mengajak Tedi untuk berdagang buku bekas di kawasan Balonggede.

"Awalnya saya diajak paman untuk berdagang buku bekas. Dengan modal meminjam dari teman, saya mencoba memberanikan diri untuk berdagang. Dan ternyata bisnis ini cukup menjanjikan," ucapnya.

Dalam sehari, Tedi mengaku bisa meraup omzet hingga Rp200.000. Pendapatan itu berasal dari penjualan buku bekas yang memiliki harga beraneka ragam mulai dari Rp5.000 hingga Rp100.000. Buku-buku bekas tersebut didapatnya dari pelanggan yang menjual secara langsung atau buku retur dari penerbit yang tidak laku di pasaran.

"Mahal atau murahnya suatu buku bekas, bukan dilihat dari ketebalannya, tapi dilihat dari kelangkaannya, terutama buku-buku sejarah dan budaya. Semakin lama cetakannya maka akan semakin mahal," jelasnya.

Selain buku lokal, Tedi juga memiliki buku-buku berbahasa asing, seperti buku kedokteran, teknik, dan manajemen. Biasanya buku-buku bekas kerap diburu para pelajar dan mahasiswa. Bahkan, Tedi pun kerap mendapatkan pelanggan yang berasal dari luar negeri, seperti Malaysia, Singapura, Belanda, serta Timor Leste.

"Tapi kalau buku kedokteran, teknik, dan manajemen selalu berubah-ubah mengikuti perkembangan zaman, jadi sering murah bahkan pernah saya jual per kilo karena tidak laku," bebernya.

Pria asal Kabupaten Bandung ini berharap pemerintah terus menggalakkan budaya baca buku masyarakat. Tidak hanya itu, dia pun berharap pemerintah membantu memberikan kredit permodalan dengan bunga ringan agar para pedagang buku bekas terhindar dari jerat para rentenir.[jul]

berita lainnya
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut
Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAHJABAR.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
  • Facebook
  • Twitter
  • RSS
warta terkini
terpopuler
foto hari ini
www.inilah.com
Follow inilahjabarcom on Twitter